Kalau bicara tentang tradisi lebaran, pasti akan berbeda-beda tiap keluarga.
Seperti tradisi Lebaran yang ada di keluarga saya, berawal dari keluarga nenek dari Bapak dan Ibu dimana mereka berasal dari satu desa yang sama di lereng gunung Raung.

Sejak kecil, setiap Lebaran kami wajib mudik ke rumah nenek. Bahkan saudara-saudara yang tinggal di luar pulau pun, akan menyempatkan diri untuk pulang demi berkumpul dan bersilaturahmi bersama di desa nenek. Maklum, hampir satu desa statusnya adalah saudara. Entah itu saudara jauh, saudara dari kakeknya paman, saudara dari ibunya kakeknya ponakan Bapak, yang terkadang membuat saya mengernyitkan dahi saat mendengar silsilah kekerabatan kami.

Sampai saat sudah berkeluarga pun, tradisi ini tetap berlanjut. Meski sekarang tinggal satu nenek saja dari pihak Ibu, setiap tahun kami sekeluarga akan tetap berkumpul di desa nenek untuk kemudian bersama-sama berkeliling mengunjungi rumah saudara lainnya di desa tersebut. Hanya saja perkecualian bagi saya, tradisi kumpul di rumah nenek ini, jadi terbagi setiap dua tahun sekali karena harus mudik ke rumah mertua yang berbeda kota dengan desa nenek.

Saking kuatnya tradisi kumpul keluarga ini, Ber-lebaran di rumah orangtua pun kami lakukan setelah menyelesaikan misi silaturahmi dan berkeliling ke sanak saudara di desa nenek.

Seiring waktu saya juga beralih dari yang tadinya menerima THR yang berlimpah dari paman, tante, budhe dan pakdhe sedesa menjadi yang menyiapkan THR untuk keponakan-keponakan dan cucu-cucu dari saudara yang kami temui saat berkeliling di desa nenek. Karena memberi THR atau angpau Lebaran juga menjadi tradisi turun-temurun di keluarga besar saya.

Hal yang lucu adalah ketika anak saya berujar "Aku mau bawa tas ya ma, buat naruh uang dari orang-orang nanti"
Dan saya menanggapi sambil tertawa "Memangnya nanti pasti dapat uang banyak dek?"
Si kecil menjawab "iya lah ma, kan ini Lebaran"

Persis sama deh seperti pemikiran saya saat kecil dulu, Lebaran menjadi ajang mengumpulkan pundi-pundi uang yang bisa saya gunakan untuk membeli apapun yang saya mau, karena orang tua saya membebaskan uang THR yang saya kumpulkan untuk belanja apapun asalkan bermanfaat untuk saya.*

Tradisi lainnya adalah membuat ketupat sendiri. Karena hidup di desa, nenek selalu membuat ketupat sendiri dengan mengumpulkan daun janur dari kebun kelapa di belakang rumah. Kakek sendiri mengajarkan cara membuat beragam jenis ketupat saat saya masih duduk di bangku SD dan sejak itu, Jadilah saya sedari kecil menjadi asisten kakek dalam membuat ketupat. Bahkan sejak Kakek tiada, saya selalu menjadi penganyam ketupat di rumah nenek yang saya kerjakan sebelum saya kembali berangkat untuk kuliah atau bekerja.
Berkat Kakek, saya jadi tahu bahwa ada beragam tipe ketupat. meski sudah banyak yang lupa, ada dua 3 jenis yang masih saya ingat yaitu KETUPAT SINTO, KETUPAT BAWANG dan KETUPAT KODOK. Lucu-lucu ya namanya.


Ketupat Kodok

Ketupat Sinto

Tradisi membuat ketupat ini berlanjut saat saya sudah berkeluarga. Suami yang "syukurnya" terbiasa mencari janur dan membuat ketupat juga *maklum sama-sama berasal dari desa*, didaulat untuk menjadi pencari janur sementara saya tetap menjadi penganyam ketupatnya.
Bagus juga sih untuk memupuk ke-solid-an sesama pembuat ketupat *eh..* dan sepertinya setelah ini saya bisa punya usaha bikin sendiri deh dengan suami *hehehe*

Ketupat Bawang

Yang terakhir, tradisi makan di tempat saudara yang kami kunjungi. Kalau di desa nenek saya, makanannya tidak jauh-jauh dari ketupat dan lauk khas desa seperti sambal kentang, sayur lompong, ayam opor dan rujak uleg sayur.
Sementara di kampung mertua, hampir semua rumah memiliki menu yang sama, BAKSO. Maklum saja, kampung mertua terletak di kota yang terkenal produk baksonya. Malahan, banyak dari penduduknya yang berprofesi menjadi penjual bakso keliling maupun rumahan di kampungnya sendiri maupun di perantauan.

Terbayang kan, kami harus menyiapkan perut demi menghormati setiap kerabat yang menjamu dengan makanan berat. Hal yang sama pun terjadi saat ada kerabat jauh yang datang berkunjung, kami pun berganti menjamu mereka dengan masakan khas keluarga.

Oh iya soal jamu menjamu ini, saya jadi teringat saat masih tinggal di Gorontalo. disitu ada tradisi unik saat Hari Kupatan atau 7 hari setelah Idul Fitri.
Semua penduduk mengadakan "Open House" yaitu kebebasan untuk bersilaturahmi dan mencicipi masakan di setiap rumah tanpa haru mengenal si pemilik rumah.
Seru dan lucu saat saya ikut berkeliling bersama teman sekantor untuk mengikuti tradisi ini.

Wah, jadi makin gak sabar menunggu saat Lebaran di kampung halaman ya.


Baju baru Alhamdulillah..
Tuk dipakai di hari raya..
Tak punya pun tak apa-apa..
Masih ada baju yang lama..

Lirik lagu ini selalu menjadi tren saat menjelang Lebaran, mengalahkan lagu bertemakan Lebaran lainnya. Entah sebagai kode bagi pasangan ataupun orangtua untuk segera berbelanja baju baru, ataupun sekedar untuk satire terhadap kebiasaan berbelanja baju baru untuk berlebaran. Lantas kenapa sih lagu yang tren di tahun 90-an ini begitu membekas dan merasuk sukma sehingga selalu terngiang-ngiang di kepala? *maafkan bahasa alay saya ya* 



Apa karena tradisi masyarakat Indonesia yang di setiap Lebaran atau Hari Idul Fitri, kita harus selalu tampil "beda" dengan memakai baju baru? Baju yang tidak pernah terlihat sebelumnya, atau malah berseragam seluruh keluarga besar dan setiap tahunnya berbeda seragam.

Pernah terpikirkah, kenapa setiap Lebaran kita selalu ingin tampil dengan baju baru? Ternyata ada sejarahnya loh kenapa ada tradisi ber-Lebaran dengan baju baru. Dari beberapa sumber artikel, dikatakan bahwa hal ini tertulis di dalam buku Sejarah Nasional Indonesia karya Maryawati Djoened Poesponegogo dan Nugroho Notosusanto. Tradisi memakai baju baru saat Lebaran sudah dimulai sejak tahun Kesultanan Banten.

Bedanya jika saat ini masyarakat lebih banyak membeli daripada membuat sendiri baju Lebarannya, maka saat itu masyarakat menjahit sendiri baju barunya. Dan hanya keluarga Kerajaan lah yang mendapat baju bagus sesuai dengan status sosialnya.
Baju baru dijadikan sebagai simbol perayaan "kemenangan" setelah menjalani 1 bulan penuh berpuasa. Dan juga supaya perayaan Lebaran menjadi lebih meriah di masa itu.

Saat ini, tradisi memakai baju lebaran sudah banyak yang sekedar menjadi tradisi saja.
Jika ditanya kenapa harus baju baru, pasti banyak diantara masyarakat yang sekedar menjawab, "Ya karena Lebaran sih ya, setahun sekali ini".
Hayo, ngaku disini siapa saja yang tahu bahwa ternyata baju baru saat Lebaran memiliki makna lebih dari sekedar tampil "beda"?

Anggaran tidak cukup untuk beli baju baru

Tapi, jika kondisi keuangan pas-pasan untuk membeli baju baru yang benar-benar berbeda untuk dipakai saat Lebaran, kalian bisa mencoba tips berikut ini loh :

1. Keuangan menipis, manfaatkan diskon berlimpah.

Sering-sering berburu diskon dan hitung nilai diskon yang masuk di budget belanja Hari Raya kita. Karena bulan Ramadhan adalah saat yang tepat untuk mencari baju murah akibat diskon dari berbagai online dan offline store.
Tapi jangan pula terjebak nilai diskon yang tinggi ya, membuat perbandingan harga sebelum dan sesudah diskon serta membandingkan penawaran dari berbagai toko dan departement store bisa dilakukan supaya anggaran belanja tetap terkontrol.

2. Baju Lama disulap menjadi baju baru.
Tips berikut sudah sering saya lakukan. Supaya baju Lebaran saya terlihat "banyak", maka gamis lama saya padukan dengan vest atau outer baru. Bahkan beberapa baju saya tambahkan dengan aksen renda/bunga atau aksesoris lainnya agar tampil berbeda.
Cari inspirasi dari DIY (Do It Yourself) Videos di internet untuk mendapatkan padu padan baju lama dengan aksesoris unik demi tampilan yang berbeda.

Saya sendiri merasakan hasrat membeli baju baru semakin lama semakin berkurang jika dibandingkan dengan saat masa kecil dahulu. Dimana saya akan selalu menantikan saat Lebaran karena akan mendapat "kejutan" baju baru dari orangtua.

Mungkin karena semakin kesini, semakin banyak kewajiban lain yang membuat baju baru tidak menjadi suatu keharusan lagi. THR untuk keponakan, membelikan baju baru untuk anak, malas antri berdesakan di pusat perbelanjaan serta kreatifitas untuk padu padan baju lama adalah beberapa alasannya.
Tapi yang paling terlihat adalah, karena pergeseran budget dari yang tadinya untuk membeli baju baru ke banyaknya ajakan berbuka puasa.
Nah lo, beda life style lah kalau begini ya.
















Ramadhan identik dengan giatnya undangan buka bersama. Entah itu dari komunitas, teman kantor, acara resmi organisasi, keluarga, maupun ajang silaturahmi temen nongkrong dan sesama perantau.

Tapi yang banyak terjadi adalah karena kesibukan dan ketidaksamaan waktu luang, seringkali rencana buka bersama hanya menjadi wacana. Salah seorang teman pun sempat curhat bahwa sulit sekali mengajak para anggota komunitas yang kami ikuti bersama untuk berkumpul berbuka bersama.

Saya sendiri pun merasakan lebih mudah membuat acara buka bersama dengan keluarga karena pasti kemungkinan bisa hadir-nya lebih besar. Hanya saja, karena saya merupakan salah satu keluarga perantau, maka seringkali saya membuat acara berbuka bersama untuk komunitas perantau ataupun sekedar untuk bersilaturahmi dengan teman-teman.

Tips yang sering saya bagikan kepada teman yang kebetulan bertugas mengatur acara buka bersama dimana saya pun menjadi salah satu yang akan diundang adalah :

1. Tentukan jauh-jauh hari tanggal berbuka bersama. Lempar topik berbuka bersama ini ke grup (Whatsapp). Jika kebanyakan anggota grup menyatakan bahwa mereka akan mengikuti kapanpun jam dan lokasi berbuka yang sudah ditentukan, maka artinya kitalah yang harus mengambil keputusan kapan dan dimana tepatnya saat berbuka bersama akan dilakukan.

2. Berburu tempat berbuka puasa yang nyaman dan menarik. Pengalaman saya, banyak hotel dan restoran yang menyediakan paket berbuka puasa dengan minimal pax ataupun tanpa minimal pax. Manfaatkan internet melalui search engine dengan mencari kata kunci "paket berbuka bersama di hotel/restoran di kota xxx". Lumayan kan jika mendapat tempat berbuka puasa di hotel atau restoran dengan menu all you can eat atau buffet. Selain harganya menjadi jauh lebih murah, juga bisa sambil berpoto-poto syantiks di tempat yang menarik.

3. Setelah mendapat keputusan tempat dan lokasi, hubungi secara personal beberapa orang yang sudah menanggapi positif sejak topik berbuka puasa ini diajukan ke grup. Ini penting karena tidak semua anggota grup akan menyatakan kepastian mengikuti acara buka bersama. Dan teman yang setuju menjadi penarik minat teman lainnya untuk ikut acara buka bersama ini serta menjadi "jaminan" bahwa acara tetap akan terlaksana tanpa kekhawatiran tidak ada peserta acara buka bersama yang diadakan.

4. Terakhir, buat undangan resmi di grup dan membuat daftar hadir bagi yang bisa mengikuti acara buka bersama ini. Jangan berkecil hati apabila jumlah teman yang mau mengikuti acara buka bersama ini sedikit, karena yang terpenting adalah bersilaturahmi dengan teman yang memang mempunyai waktu luang untuk berkumpul bersama kita. Jadi berapapun yang menyatakan akan datang di acara buka bersama, tetap positif dan tetap laksanakan acaranya.


Sementara untuk buka bersama dengan keluarga, saya dan keluarga besar lebih menyukai mengadakan acara diluar rumah supaya mendapatkan suasana yang "berbeda". Tidak perlu hotel maupun restoran mewah, bahkan terkadang warung sederhana pun jadi. Asalkan ada menu yang ramah anak, maka kami pun memutuskan untuk berbuka bersama disitu.





Lebaran selain dinanti karena menjadi ajang silaturahmi sanak saudara yang sudah setahun tidak bertemu, tetapi juga menjadi saat dimana kita bisa tampil maksimal supaya terlihat segar dan bersemangat.

Kira-kira, suka bingung gak, dengan makeup seperti apa yang harus dipakai saat Lebaran tiba? Mau pakai makeup yang cetar membahana, takut dikira mau ke pesta kondangan. Tetapi malu juga kalau tampil cuma seadanya aja, nanti dikira masih lemas sisa-sisa puasa sebulan sebelumnya.

Kalau saya sih, make up andalan setiap lebaran pasti makeup minimalis dengan warna lipstik cenderung nude. Tone coklat oranye dan warna tanah menjadi favorit saya.

Sebenarnya tidak ada batasan dalam tema makeup lebara. sepanjang nyaman dan membuat kita percaya diri, maka sah-sah saja memakai makeup yang seperti apapun.
Tapi tidak ada salahnya jika beberapa tips berikut diambil sebagai dasar dalam memilih makeup yang cocok untuk Hari Lebaran :

1. Pakai make up yang ringan saat sholat Ied.
Hindari memakai makeup berat karena selain akan menempel di mukena, juga akan membuat muka terlihat berat.

2. Tambahkan make up yang menyegarkan untuk bersilaturahmi.
Selesai sholat, kita bisa menambahkan sedikit riasan make up untuk membuat wajah terlihat lebih segar.

3. Jangan lupa selalu memakai sunscreen sebelum memakai makeup.
Ini penting supaya kulit wajah tetap terlindungi saat berkeliling bersilaturahmi bersama keluarga.

4. Pilih lipstick berwarna merah muda, peach, atau nude.
Untuk menghindarkan sisa lipstik di tempat makan dan minum, pilih nuansa lipstik tersebut. dan selalu siapkan lipstik di dalam dompet untuk touch up ringan setelah menikmati hidangan di rumah saudara.

5. Setting Spray atau Mist Spray.
Memakai setting spray setelah make up akan membuat makeup lebih awet dan tidak terlihat cakey. Membawa mist spray dalam dompet juga bisa dijadikan andalan ketika lelah saat berkeliling silaturahmi.

6. Bedak Tabur dalam dompet
Selain lipstik dan mist spray, selalu bawa bedak tabur dalam dompet untuk touch up ringan agar tetap terlihat segar saat berkeliling silaturahmi di hari Lebaran.

Berikut adalah beberapa video tutorial dari beberapa youtuber yang bisa dijadikan inspirasi untuk makeup lebaran yang flawless dan awet seharian.

Selamat berpadu-padan make up ya!


MAKEUP LEBARAN EID AL-FITR | MAKEUP FLAWLESS DAN TAMPIL CANTIK




MAKE-UP AWET UNTUK LEBARAN - IDUL FITRI









 

Bagi orangtua yang memiliki anak kecil setidaknya yang berumur dibawah 9 tahun, saat bulan Ramadhan pasti mendapat banyak pertanyaan mengenai puasa dari mereka.
"Ma, puasa itu apa?"
"Pa, kenapa sih harus puasa? Nanti kalau lapar gimana?"
"Ma, aku gak mau puasa ah, nanti aku lapar gimana?"
atau bahkan ada yang semangat ingin ikut puasa juga "Ma, aku malu temen-temen yang puasa semua, aku ikut puasa juga ya"

Ini juga yang terjadi pada anak saya yang duduk di kelas 1 SD. Di saat teman sekelasnya ada yang mengaku berpuasa, dia pun merasa malu jika harus memakan bekal mimumnya di depan temannya itu. Dia pun bercerita bahwa bekal minum dan snack yang dibawa ke sekolah selalu dimakan dibawah meja dengan berpura-pura bilang "eh pensilku jatuh, aku ambil dulu yaa..".
Jadilah saya yang tertawa saat mendengar ceritanya itu. Ketika saya menawarkan untuk mencoba ikut berpuasa setengah hari, si kecil hanya mengangguk ragu. Dan saya pun tidak memaksanya lebih lanjut.

Keesokan harinya, dia pun tiba-tiba mendekati saya dan bilang "Ma, aku ingin ikut puasa ya, boleh?"
Maka jadilah keesokan subuhnya, si kecil ikut sahur bersama sambil menerima kesepakatan untuk berpuasa sampai bedug Dhuhur. Dan setelahnya, si kecil pun bersemangat menjalani puasa setengah harinya.

Melatih anak berpuasa, seringkali memang tidak mudah. Karena anak pada umumnya tidak bisa menahan rasa haus dan lapar atau godaan keinginan memakan makanan kesukaannya. Apalagi jika anak kita termasuk anak yang aktif, maka besar kemungkinan anak akan sering merasa haus ataupun rasa ingin "ngemil".

Tips yang bisa dilakukan untuk melatih anak berpuasa antara lain :
1. Membiasakan diri dengan berpuasa setengah hari saat masih belum usia dini agar anak terbiasa untuk menahan lapar dahaga. dan teruskan sehari penuh setelah anak terbiasa.

2. Menyibukkan anak dengan kegiatan yang tidak menguras energinya. Mengajak anak membuat kue bersama sambil menghadiahi kue buatannya sendiri untuk dijadikan makanan takjil bisa menjadi salah satu contohnya. atau siapkan mainan kesukaannya seperti buku dongeng, kegiatan mewarnai yang membuatnya lupa akan waktu menunggu berbuka.

3. Menyajikan hidangan kegemaran anak sebagai menu berbuka. Ini bisa membuat anak bersemangat untuk menyelesaikan puasanya.

4. Siapkan menu sahur dan berbuka yang bisa menambah energi anak. Susu, sari kurma maupun kurma bisa menjadi tambahan suplemen bagi anak.

5. Tidak ada salahnya memuji anak saat berhasil berpuasa. Karena bagi anak, pujian atau hadiah dari orangtua bisa menambah semangat untuk berpuasa kembali keesokan harinya.

Ingat ya, jangan pernah memaksa anak untuk berpuasa sesuai keinginan kita. Lebih baik memberikan contoh dan mengajak anak untuk bersenang-senang dalam menikmati puasa nya.
Latihan akan menjadikan anak tidak kaget dalam berpuasa. Sehingga anak akan menawarkan diri sendiri untuk berpuasa tanpa harus dipaksa.


Sekarang adalah era digital dimana banyak hal yang dapat mempermudah aktivitas serta pekerjaan yang sehari-hari kita lakukan.
Kemunculan telepon pintar atau smartphone bisa memberikan sisi negatif maupun sisi positif dalam kehidupan tergantung pada tujuan pemakaiannya.

Demikian pula untuk aplikasi yang terdapat didalam telepon pintar, saat ini banyak pengembang yang membuat aplikasi tidak hanya untuk memuaskan keinginan bersenang-senang ataupun membantu pekerjaan sehari-hari, tetapi juga aplikasi yang membantu kegiatan keagamaan berjalan lancar seperti aplikasi adzan, quran digital, forum konsultasi islami, dan lain-lain.

Selama bulan Ramadhan, apa saja aplikasi yang bisa dipakai untuk mendukung kelancaran kita beribadah?

Saya sendiri ingin sharing beberapa aplikasi andalan saya yang saya gunakan tidak hanya dalam keseharian tetapi juga membantu sekali dalam beraktivitas di bulan Ramadhan ini. 


1. Aplikasi My Quran dari the Wali studio
Menurut saya ini adalah versi paling lengkap yang pernah saya pakai dengan penampilan interface yang tidak membingungkan. Mulai dari arah kiblat dan jadwal sholat sesuai dengan lokasi, quran dalam huruf arab, latin berikut terjemahannya, kumpulan doa, arahan tajwid, hapalan surat dan bookmark serta fitur berguna lainnya.

My Quran ini terdapat versi lite dan berbayarnya dengan perbedaan seperti tercantum di website mereka :
http://www.thewalistudio.com/perbedaan-fitur-gratis-dan-berbayar/

Saya sendiri sudah menggunakan versi berbayarnya yang bebas tanpa iklan dan tidak memberikan batasan dalam pewarnaan tajwid (membantu sekali dalam membaca Al-quran dengan benar) dan jumlah hafalan yang saya simpan.

Untuk memiliki versi berbayar ini bisa melalui website nya ataupun dengan membeli salah satu produk kaos dengan desain islami nya.

Saya menggunakan my quran ini untuk :
  • mendapatkan jadwal sholat, imsya', dan berbuka setiap hari
  • membaca al-quran saat diluar rumah dengan praktis dan menyimpan halaman terakhir yang saya baca.
  • menyimpan surat atau ayat penting yang sedang saya jadwalkan untuk dihafalkan di fitur hafalan.
  • fitur my doa yang menarik karena kita bisa mengirimkan doa untuk di amin kan oara pengguna aplikasi my quran lainnya yang membaca doa kita.
  • kita bisa membaca dan mendengarkan nasihat kaum ulama di konten islami. Cocok untuk ngabuburit maupun saat menunggu subuh.
  • mau sedekah selama bulan puasa, bisa dilakukan di dalam fitur my sedekah yang terdapat banyak data siapa saja yang memerlukan bantuan sedekah kita.
  • disertakan juga kalender hijriyah lengkap dengan tanggal hari besar Islam didalamnya.


2. Cookpad.
Aplikasi ini saya pakai untuk mencari resep praktis untuk sajian berbuka maupun sahur. Lumayan bisa membuat saya berkreasi dalam membuat sajian yang praktis tanpa harus ribet.

aplikasi ini bisa didownload disini :
https://play.google.com/store/apps/details?id=com.mufumbo.android.recipe.search&hl=en


3. Tanya ustadz dari Yufid. Inc
Saya menggunakan aplikasi ini untuk mencari artikel tentang Islam dan hukum syariat sehari-hari. Kumpulan pertanyaan yang dibahas serta kuta pun bisa mengajukan pertanyaan jika hasil pencarian terhadap hal yang kita ingin tahu, tidak bisa kita temukan.

Intip alikasinya disini ya :
https://play.google.com/store/apps/details?id=org.yufid.tanyaustadz


Selama Ramadhan, ketiga aplikasi inilah yang sering saya gunakan. Selain bermanfaat juga bisa menambah wawasan dan ilmu.

Semoga sharing ini bisa bermanfaat ya dan jangan lupa untuk tetap semangat selama berpuasa. Karena puada bukan halangan untuk melakukan aktivitas harian seperti diluar bulan Ramadhan.


Karena sekarang adalah bulan Ramadhan, pasti kita semua merasa gembira dalam menyambutnya.
Iya, bulan dimana semua pahala dilipatgandakan adalah kesempatan bagi kita memperbanyak amalan-amalan baik dan ibadah sunnah.

Berhubung sebentar lagi sudah memasuki fase 10 hari terakhir dalam bulan Ramadhan yang disebut juga hari-hari berisi berkah pembebasan dari api neraka (itqum Minannar). Maka dianjurkan untuk semakin memperbanyak ibadah dan amalan shaleh. Apalagi kalau kita ingin mendapatkan malam seribu bulan atau malam Lailatul Qodar. 

1. Memperbanyak Sedekah
Sedekah tidak hanya berupa harta tetapi juga non harta seperti membantu orang yang sedang berpuasa, membantu di masjid-masjid yang mempersiapkan buka puasa, dll. 

2. Menghidupkan Malam dengan Qiyamul lail atau sholat malam.
Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa salat malam pada bulan Ramadhan dengan keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah, niscaya diampunilah dosa-dosanya yang telah lampau.” (Al Bukhari-Muslim)

3. Tilawah atau Membaca Alquran. 
Al-quran pertama kali turun pada bulan Ramadhan karena inilah salah satu keutamaan bulan Ramadhan. Memperbanyak baca Al-quran dapat melipatgandakan pahala yang didapat. 

5. I'tikaf atau berdiam diri di masjid. 
Berdiam diri bukannya membolehkan kita tidur-tiduran atau bersenda gurau di masjid ya. Isilah dengan bertilawah ataupun memperbanyak bacaan dzikir dan istighfar. 

Lalu sebagai wanita yang pasti memiliki saat dimana tidak bisa berpuasa karena haid atau menstruasi, amalan apa yang masih bisa kita lakukan? 

1. Berdzikir dan membaca istighfar. 
2. Memberi makan yang sedang berpuasa. 
3. Mendengarkan murottal/ lantunan bacaan Al-Quran. 
4. Perbanyak sedekah dan amalan baik. 

Sangat simple kan? Dan bisa dilakukan tanpa harus khawatir amalan kita tidak diterima karena sedang menstruasi atau haid.
Nah dari sekian hal ini ada yang sudah melaksanakannya? Di 10 hari terakhir ini, adalah kesempatan untuk memperbanyak pahala dan meraih malam lailatul qadr yang utamanya di malam dengan bilangan ganjil pada 10 hari terakhir di bulan Ramadhan. 

Semoga kita semua mendapatkan maghfirah Nya dan berkesempatan mendapatkan anugerah malam seribu bulan ini ya.